Showing posts with label Kompetisi. Show all posts
Showing posts with label Kompetisi. Show all posts

Monday, February 15, 2016

Terima Kasih Jihaz-Toys, Pengalaman Jadi Reseller Boneka Saat Kuliah

Sebuah cerita bukan untuk dinikmati sendirian, akan lebih berbuah andai dijadikan bahan berbagi. Semangat! Kalau lirik lagu menyampaikan “Muda tanpa Cinta Bagai Taman Tak Berbunga hai begitulah kata para pujangga”. Kalau kata saya “Muda tanpa Karya lebih Mendrita daripada Muda tanpa Cinta”. 

Semasa kuliah adalah masa terindah dan paling awet kenangan-kenangannya. Pertama, saya tidak pernah membayangkan dapat mengenyam pendidikan di kota besar seperti Bandung ini. Kedua, ternyata skenario semasa di kampus sangat tidak diduga-duga. Pepatah barat mengatakan bahwa : "Some beautiful paths can’t be discovered without getting lost." (Erol Ozan). Iya benar, perjalanan indah saya sewaktu kuliah tidak akan pernah saya raih tanpa tersesat terlebih dahulu. Saat-saat tersesat ini pasti ada petunjuk-petunjuk baru untuk dapat kembali menemukan jalan yang benar. 

Selamat Datang di Kota Bandung 

Bandung adalah kota metropolitan, kota yang begitu luas, dan kota yang penuh tantangan bagi saya. Betapa tidak, merantau seorang diri mengharuskan saya harus bisa bertahan. Bertahan mempertahankan kelangsungan isi kantong dan juga mempertahankan kelangsungan studi S1 saya. Awal kuliah saya lebih menyibukkan diri untuk mandiri secara ekonomi, cari-cari peluang yang memungkinkan untuk part-time. Mulai dari jualan pulsa, gorengan, baju, kaos dan lainnya saya jajaki semua. Ada satu usaha yang membekas sekali dan berperan banyak dalam mendukung kemandirian saya waktu itu, yaitu "Jualan Boneka". 

Bercerita mengenai jualan boneka, satu UMKM yang berjasa banget buat saya adalah Jihaz-Toys. Awalnya saya berkenalan dengan Pak Reza, pemilik Jihaz-Toys, di sebuah acara pelatihan teknopreneur di kampus. Mengorek-ngorek pengalaman berwirausaha Pak Reza, akhirnya saya terinpirasi. Pak Reza sudah lama menjalankan usaha boneka. Ruko nya beralamat di Jalan Kopo Sayati Hilir No. 30, Bandung. Saat ini usaha beliau sudah berkembang cukup pesat, namun menilai seseorang lebih berarti jika dilihat dari perjuangan-perjuangan beliau merintis usaha. Luar biasa menginspirasi perjuangannya. Pak reza dulu hanya sebagai pekerja di sebuah toko boneka. Semakin lama bekerja, beliau juga semakin banyak pengetahuan mengenai seluk beluk boneka. Akhirnya, dengan kemantaban hati, Pak Reza putuskan untuk memulai merintis usaha boneka miliknya sendiri. 


Kios Boneka Jihaz-Toys Bandung 
Setelah berkenalan dengan Pak Reza, dan beliau juga mengizinkan saya untuk menjadi reseller, selanjutnya saya bentuk sebuah tim. Tim ini bernama "Bos Boneka Bandung" atau lebih akrab disingkat dengan nama BosBon. Tim saya terdiri dari 5 orang dan masing-masing bertugas di setiap divisi yang telah ditentukan yaitu pimpinan, keuangan, logistik, online marketing, dan offline marketing. 


Tim Bos Boneka Bersama Pak Reza 
Selanjutnya, atas bimbingan Pak Reza, kami buat media promosi dan juga katalog produk. Usaha boneka kami melayani penjualan boneka jadi dan juga pre-order boneka custom untuk maskot atau marchandise. Media promosi yang pertama dibuat adalah facebook dan web store. Minggu pertama, kami fokus dalam promosi online. Gencar dan terus menerus posting, langkah ini adalah yang selalu kami lakukan untuk mendapat lirikan calon konsumen.

Fan Page Bos Boneka Bandung 
Bersyukur sekali kami, setelah promosi besar-besaran melalui media sosial. Pesanan demi pesanan datang. Mulai dari pesanan satuan boneka biasa sampai boneka custom untuk marchandise juga cukup banyak. Kami melebarkan sayap penjualan melalui bazar-bazar yang diadakan di kampus. Pak Reza memang sangat baik, khusus untuk Bazar kami tidak perlu mengeluarkan modal sama sekali. Kami hanya perlu mendata boneka apa saja yang di bawa dan membayar boneka yang laku terjual saja saat acara bazar. Dengan semangatnya kami loncat bazar sana bazar sini demi meningkatkan penjualan usaha yang baru dirintis ini. 

Bergaya di Salah Satu Bazar Kampus 

Jualan Boneka Custom Kampus UPI 


Hidup memang tidak bisa disangka-sangka. Dari berkenalan dengan pelaku UMKM, Pak Reza, kemudian menjadi reseller dan akhirnya dapat membantu menyokong kemandirian ekonomi secara pribadi. Seperti kalimat pembukaan di awal, saya telah menyebutkan bahwa cerita indah harus dibagikan. Dengan harapan ada hal positif yang dapat diperoleh orang lain. Ketika ada seorang wartawan untuk meliput kisah ini, saya dengan senang hati menceritakannya. 

Mejeng Inspiratif di Koran Bandung Ekspress 

Saatnya, Giliran untuk Memberdayakan UMKM 

Pak Reza dengan usaha bonekanya sudah sangat membantu saya di waktu kuliah. Yang paling berharga adalah pengalaman merintis usaha. Bagaimana menghadapi tuntutan harus memuaskan klien, bagaimana memanajemen waktu, bagaimana mengatur arus kas keuangan, dan masih banyak pengalaman lainnya yang tidak ternilai harganya. 

Pada umumnya, tantangan besar bagi seluruh UMKM adalah modal usaha untuk meningkatkan kapasitas usaha. Sudah saatnya, ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong diterapakan di negeri ini. Tidak usah muluk-muluk, mulailah dari hal yang sederhana yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah menabung. 

Lho kog bisa? Bukannya menabung itu malah menumpuk untung buat diri sendiri saja ya? Di mana letak membantu nya? Good Question need Good Answer! Salah satu Bank BUMN mempunyai solusi tepat mengenai pertanyaan tersebut. Nama programnya adalah Menabung untuk Memberdayakan. 

Dengan menabung di BTPN Sinaya, Anda turut memberdayakan jutaan mass market di Indonesia yang terdiri dari para pensiunan, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta masyarakat prasejahtera produktif melalui program Daya. Sehingga selain menabung untuk diri sendiri, kita juga dapat membantu berkembangnya sesama dan pada akhirnya hidup kita akan lebih berarti. 

Masih bingung? Ehm, tenang saja. Program ini telah memberikan sebuah simulasi online yang tersedia di web : http://menabunguntukmemberdayakan.com/. Mari yo mari, biar lebih afdol kita coba sama-sama. Berikut adalah langkah-langkah simulasi yang dilengkapi infographic nya. 


Kunjungi Website http://menabunguntukmemberdayakan.com/ dan Klik Mulai Simulasi 

Pilih log in dengan akun Facebook atau secara Manual 

Tentukan nilai setoran tabungan per bulannya dan juga jangka waktu tabungan. Kalau saya mencoba memilih setoran Rp 1.500.000,- dan dalam jangka waktu 3 Tahun. 

Klik tombol Lihat Hasil Simulai. Untuk melihat hasilnya, isikanlah data yang ada pada borang seperti pada gambar di atas. 

Dalam sekejap, Hasilnya pun akan keluar. Wow. . . Hanya dengan menabung Rp 1.500.000,- per Bulan, akan akan mendapatkan uang total Rp 58.303.504,-. Ehm sudah bisa buat DP Rumah. Horeee!!! 
Dahsyat bukan? Selain berkah untuk diri sendiri, tabungan kita juga akan berkah untuk sesama. Sekali lagi, karena melalui dana yang kita simpan, kita juga berkesempatan untuk turut memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku UMKM dalam meningkatkan kapasitas mereka melalui pinjaman dana dan berbagai pelatihan melalui program Daya. 

Tunggu apa lagi, tidak lah ragu untuk berbuat kebaikan, mulai dari sendiri dan mulai dari hal yang paling sederhana, mari berbagi keberkahan tabungan kita melalui Program "Menabung untuk Negeri dari Bank BTPN". 



*Tulisan ini dibuat dalam rangka berbagi informasi positif dan mengikuti Lomba Blog Terima Kasih Mass Market dari Bank BTPN. Rekan-rekan juga dapat mengikuti lomba ini dengan menge-klik gambar di sini. Selamat Mencoba. 




Tuesday, June 30, 2015

Mulai dari Diri Sendiri, Jaga Persatuan Bangsa!

Mulai dari Diri Sendiri, Jaga Persatuan Bangsa! 
Oleh : Muhammad Adli Rizqulloh 

*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Beasiswadataprint Periode 1 2015. Beasiswa ini merupakan Program CRS dari DATAPRINT. Sahabat Printer Pelajar Indonesia! 



Siapa yang tidak kenal Indonesia? Sebuah negara yang membentang cemerlang di atas garis khatulistiwa. Tidak hanya gemilang pesona alamnya, Indonesia juga dikenal mempesona keanekaragaman sumber daya manusia. Baik itu budaya, agama, ras, suku, maupun bahasanya. Keanekaragaman itu telah membudaya menjadi sebuah keharmonisan. Kalau di langit ada pelangi yang mempercantiknya, kalau di darat ada Indonesia yang mempercantik tampilannya. Memang, semenjak bangsa ini merdeka telah dirumuskan sebuah semboyan pemersatu bangsa yaitu Bhineka Tunggal Ika. Semboyan yang berasal dari bahsa jawa kuno ini mempunyai makna walaupun berbeda ras, warna kulit, logat daerah, semuanya tetap dari negara yang sama yaitu Indonesia. Intinya adalah semboyan ini menyiratkan sebuah kekuatan toleransi antar masyarakat. Mungkin saja tanpa toleransi negara ini tidak dapat berdiri bahkan merdeka menjadi bangsa yang berdaulat. Lantas sudah tenangkah kita dengan kondisi persatuan bangsa sekarang ini? Apa sih di dunia ini yang abadi hanya mempunyai satu sisi tanpa sisi berlainannya? Betul apapun selalu mempunyai dua sisi bak mata uang. Ada baik ada buruk, ada positif ada pula negatif, dan ada kekal kerukunan pasti ada juga celah-celah perpecahan. Termasuk juga dalam hal persatuan bangsa, pasti ada celah-celah pemecah belahnya. Pada intinya apa yang paling ditakuti dari sebuah persatuan? Benar sekali jawabnya adalah perpecahan. Bangsa ini sudah utuh seperti halnya semboyannya, berbeda-beda tapi satu. Apakah mungkin terpecah? Mungkin saja. Kalau begitu apa kira-kira penyebabnya? Berbicara mengenai penyebab runtuhnya persatuan bangsa sangatlah banyak, namun penyebab utamanya dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal. Sekarang yang lebih penting adalah sedia payung sebelum hujan. Melakukan upaya-upaya mulai dari diri sendiri untuk mencegah runtuhnya persatuan bangsa. Berikut ini adalah langkah-langkah kecil untuk tetap menjaga persatuan bangsa. 

1.       Meningkatkan Cinta Tanah Air
Semakin lama semakin cinta, semakin tua semakin tambah cinta. Begitu seharusnya rasa yang kita rasakan sebagai warga negara Indonesia. Kita wajib memiliki rasa cinta tanah air yang semakin lama semakin meningkat deras tak terbendung. Kalau sudah cinta logikanya apapun akan dilakukan untuk tetap membuat bangsa ini tersenyum manis. 

2.       Rela Berkorban
Sikap rela berkorban adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan keikhlasan memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain, walaupun akan menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri. Inilah prinsip bermasyarakat yang merupakan ciri bangsa Indonesia, sepertihalnya anggota badan ketika satu sakit semua merasakan sakit dan satu senang semua merasakan kesenangan. 

3.       Memperdalam Wawasan Nusantara
Memperdalam wawasan nusantara adalah pengingat bagi seseorang bahwa hidup di Indonesia ini adalah hidup di tengah-tengah keberagaman. Selain itu, semakin dalam pengetahuan wawasan nusantara seseorang juga dapat menambah kecintaan akan bangsa ini. 

4.       Saling Menghormati dan Menghargai
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang artiya manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia perlu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia juga memiliki banyak kebutuhan dan keinginan yang semuanya tidak mungkin untuk kita penuhi sendiri. Memang, setiap manusia mempunyai keyakinan masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lain. Setiap orang pula memiliki keinginan agar keinginannya dihargai. Oleh karena itu untuk menjaga keharmonisan hubungan antar-sesama alangkah baiknya kita saling menghargai keyakinan orang lain dan tidak menganggap keyakinan kitalah yang selalu benar.


Sunday, June 14, 2015

Ancaman Narkoba, Tanggung Jawab Kita!

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Blog Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh. Teman-teman juga bisa ikut berpatisipasi dengan mengunjungi link berikut ini http://blog.bnnpaceh.com/. 
atau Klik Gambar di bawah ini yah untuk mengetaui lebih lanjut mengenai Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba khususnya di Provinsi Aceh. 


Melalui Tulisan, Mari Kampanyekan Indonesia Sehat Tanpa Narkoba! 


Siapa yang tidak kenal dengan NARKOBA? Satu kata yang menyimpan berjuta ancaman, begitulah kata orang-orang. Baik sebetulnya siapakah yang menebar ancaman itu? Sang Narkoba ataukah Kita sebagai Manusia? Sebagai bentuk rasa penasaran, saya menyelusuri ke laman resmi Badan Narkotika Nasional (http://www.bnn.go.id/portal/). Pada laman tersebut saya menemmukan penjelasan yang sangat jelas mengenai apa itu NARKOBA. Berikut adalah penjelasannya.
“Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya. Terminologi narkoba familiar digunakan oleh aparat penegak hukum; seperti polisi (termasuk didalamnya Badan Narkotika Nasional), jaksa, hakim dan petugas Pemasyarakatan. Selain narkoba, sebutan lain yang menunjuk pada ketiga zat tersebut adalah Napza yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Istilah napza biasanya lebih banyak dipakai oleh para praktisi kesehatan dan rehabilitasi. Akan tetapi pada intinya pemaknaan dari kedua istilah tersebut tetap merujuk pada tiga jenis zat yang sama. Meskipun demikian, penting kiranya diketahui bahwa tidak semua jenis narkotika dan psikotropika dilarang penggunaannya. Karena cukup banyak pula narkotika dan psikotropika yang memiliki manfaat besar di bidang kedokteran dan untuk kepentingan pengembangan pengetahuan. Menurut UU No.22 Tahun 1997 dan UU No.5 Tahun 1997, narkotika dan psikotropika yang termasuk dalam Golongan I merupakan jenis zat yang dikategorikan illegal. Akibat dari status illegalnya tersebut, siapapun yang memiliki, memproduksi, menggunakan, mendistribusikan dan/atau mengedarkan narkotika dan psikotropika Golongan I dapat dikenakan pidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku”.

Nah nagaimana sekarang, suda ada pencerahan kan? Menurut penjelasan di atas desebutkan bahwa tidak semua jenis Narkoba itu dilarang penggunaannya. Namun nih, usut-diusut ya namanya manusia kalau ada larangan sudah menjadi “budaya” untuk dilanggar. Pemerintah telah memberikan rambu-rambu bahwa jenis Narkoba Golongan 1 itu sangat membahayakan dan juga menyebabkan ketergantungan yang sangat tinggi. Sebagai stakeholder yang mengayomi masyarakat maka pemerintah melarang penggunaan Narkoba jenis ini. Larangan ini sebagai lampu merah demi kemaslahatan kehidupan masyarakat, bukan sok berkuasa dan melarang-larang tanpa tujuan yang jelas. Baik kan pemerintah? Namun, tetap saja ada yang menganut istilah lama bahwa “larangan dibuat untuk dilanggar”. Oleh karena itu munculah istilah Penyalahgunaan Narkoba, artinya adalah Narkoba itu disalahgunakan bukan Narkoba yang salah. Jadi intinya yang salah bukanlah Narkobanya karena sejatinya Tuhan menciptakan semua yang ada di bumi ini pasti mempunyai manfaat tersendiri.

Maraknya peredaran narkoba yang menyebabkan penyalahgunaan narkoba sangat meresahkan masyarakat. Tidak hanya kaum remaja dan anak muda yang terjerumus dalam penggunaan narkoba ini, namun juga orangtua yang notabene seharusnya lebih mengerti akan bahaya narkoba. Menurut data dari Laporan Survei Perkembangan Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tahun Anggaran 2014 Badan Narkotika Nasional menyebutkan bahwa jumlah rata-rata barang sitaan lebih kecil dibandingkan dengan jumlah rata-rata narkoba yang lolos beredar. Berikut adalah tabel Jumlah Estimasi peredaran dan sitaan narkoba di Indonesia, 2014.

Sumber : www.bnn.go.id

Sangat mencengangkan bukan? Memang seringkali kita melihat berita penangkapan bandar narkoba di mana-mana, mulai dari bandar kelas teri sampai Big Boss yang telah dieksekusi mati. Namun faktanya di lapangan, jumlah narkoba yang lolos beredar masih jauh lebih banyak. Pertanyaannya siapakah yang mengkonsumsi barang haram sebanyak ini? Jawabannya adalah semua kalangan. Mulai anak kemarin sore sampai yang sudah bau tanah, mulai dari yang terpelajar sampai yang marjinal, dan mulai dari penonton televisi sampai juga artis yang setiap hari nongol di televisi. Kira-kira nih apa sih yang menyebabkan mereka ingin menggunakan narkoba secara ilegal? Hemsss kalau menurut saya sih mending beli Nasi Goreng campur Kornet plus Bakso di deket kampus, hehehe kan sama aja kalau disingkat jadi narkoba. Beribu-ribu alasan seseorang untuk menyalahgunakan narkoba, namun rata-rata faktor penyebabnya dalah sebagai berikut.

1.   Coba-Coba
Buat anak kog Coba-Coba? Hahaha. Dengan merasa tertarik melihat efek yang ditimbulkan oleh suatu zat yang dilarang, seseorang dapat memiliki rasa ingin tahu yang kuat untuk mencicipi nikmatnya zat terlarang tersebut. Jika iman tidak kuat dan tidak ingat dengan petuah keluarga di rumah maka seseorang dapat mencoba narkoba. Tanpa disadari dan diinginkan orang yang sudah terkena zat terlarang itu akan ketagihan dan akan melakukannya lagi berulang-ulang tanpa bisa berhenti. Pokoknya kalau sudah ketagihan, apapun dilakukan demi mendapatkan zat terlarang tersebut.

2.   Ingin terlihat Gaul
Narkoba terkadang dapat membuat pamakainya menjadi lebih berani, keren, percaya diri, kreatif, santai, dan lain sebagainya. Efek keren yang terlihat oleh orang lain tersebut dapat menjadi trending topic pada kalangan tertentu sehingga orang yang memakai zat terlarang itu akan disebut gaul bingits dan sebagainya.

3.   Solidaritas tanpa Batas
Gak kompak gak keren! Itu nih kaliamat yang terkadang bisa jadi menjerumuskan kalau kita tidak dewasa dalam menyikapinya. Alih-alih membimbing rekannya ke arah yang lebih baik, eh malah menendangnya ke lubang kesesatan. Apakah itu yang disebut kompak? Suatu kelompok orang yang mempunyai tingkat kekerabatan yang tinggi antar anggota biasanya memiliki nilai solidaritas yang tinggi. Misalnya, jika ketua atau beberapa anggota kelompok yang berpengaruh pada kelompok itu menggunakan narkotika, maka biasanya anggota yang lain baik secara terpaksa atau tidak terpaksa akan ikut menggunakan narkotik itu agar merasa seperti keluarga senasib sepenanggungan.

4.    Menyelesaikan Masalah
Ada yang menganggap pelarian ke narkoba itu seperti pegadaian. Yup, betul sekali mengatasi masalah tanpa masalah. Orang yang dirudung banyak masalah dan ingin lari dari masalah dapat terjerumus dalam pangkuan empuk sang narkoba. Tujuannya adalah agar dapat tidur nyenyak atau jadi senang nan gembira ria dan kemudian merasa masalahnya terselesaikan sejenak.

5.  Mencari Tantangan
Hal ini sekiranya cocok sekali dengan rentan usia muda. Masa muda hanya sekali maka buat hepi-hepi aja ada hadapi tantangan dengan penuh berani. Nah ini nih yang bisa membuat anak muda mencoba-coba narkoba. Huh, padahal mah kalau mau cari tantangan ya mending main arum jeram atau ikutan naik gunung saja lebih asyik. Daripada nyobain narkoba, badan kurus eh kantong ikut kurus.

Mbah Buyung makan Ketan, Sedia Payung sebelum Hujan! Pantun ini sangatlah cocok untuk mencegah perilaku yang menjerumus pada penyalahgunaan narkoba. Sebetulnya kekuatan tameng diri sendiri adalah perlindungan terbaik bagi kita untuk terhindar dari penyalahgunaan narkoba. Namun agar lebih binggo di bawah ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mennghindarkan kita terjerat kecanduan narkoba yang sangat bersifat parasit untuk fisil maupun psikis.

1.   Pandai Memilih Teman
Seringkali setiap mengikuti kajian di masjid sekolah sewaktu masih aktif di kegiatan Rohis jaman SMA dulu, saya mendapatkan petuah mengenai tips memilih teman. Bahkan saya diberi tahu bahwa itu ada Hadist nya, beginilah lengkapnya.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Memilih teman dalam bergaul adalah hal penting, karena dari pergaulan seseorang belajar memahami dan mengerti satu sama lain. Pergaulan yang salah bisa menyebabkan terperosok sehingga harus berhati-hati dengan teman dalam pergaulan. Menurut saya lebih baik berteman dengan mang Nasi Goreng daripada berteman dengan pencandu Narkoba. Lagi-lagi biar kebagian Nasi Goreng Kornet Bakso. Wkwkwk, maklum Anak Kosan.

2.   Mendekatkan Diri dengan Agama
Dengan ibadah diharapkan seseorang dapat merasa dekat dengan Tuhannya, sehingga dalam bertindak termasuk mengkonsumsi narkoba seseorang akan ingat bahwa Tuhan selalu mengawasinya. Seperti yang terkandung dalam Firman Allah SWT berikut.
"Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan". [al-Baqarah /2 : 74].

Yakin dan taqwa akan membuat kita selalu merasa terawasi dan terbayangi rasa bersalah ketika melakukan kegiatan negatif termasuk penyalahgunaan Narkoba. Sehingga kemungkinan kecil bagi seseorang untuk terjerumus dalam dunia narkoba.

3.    Terbuka dan Mau Curhat
Berusaha untuk terbuka merupakan hal yang lebih baik daripada memendamnya sendiri. Memendam masalah sendiri sedalam-dalamnya hanya dapat menekan perasaan sendiri yang pada akhirnya dapat membuat frustasi bahkan depresi. Akhir dari tindakan frustasi dapat mengkonsumsi narkoba atau lebih parahnya bunuh diri. Naudzubillah.

4.    Menyibukkan Diri dengan Aktivitas Positif
Buat kita yang sedang sekolah atau kuliah lebih baik menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif nan konstruktif. Seperti mengikuti OSIS, Ekstrakulikuler, BEM, Unit Kegiatan Mahasiswa, belajar berbisnis, dan kegiatan lainnya. Untuk pemuda yang sudah bekerja mungkin juga bisa memanfaatkan waktu luang nya untuk ikut bersosialisasi di Masyarakat dengan bergabung di Karang Taruna atau LSM lainnya. Semakin sedikit waktu luang yang tidak teroptimalkan maka semakin kecil pula kemungkinan kita terjerumus ke dalam aktivitas negatif seperti penyalgunaan Narkoba.

Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa semua pengguna Narkoba itu dipenjara, dijeblosin ke kurungan biar kapok. Memang ada betulnya juga, namun perlu dibedakan mana pengguna, pencandu, dan pengedar ya guys. Jangan disama ratakan, masuk penjara satu masuk semua. Seorang penyalahguna bisa dikirim ke panti rehabilitasi jika dia dikenakan pasal tentang penyalahgunaan narkoba (bukan pengedar) sebagaimana diatur Pasal 127 UU Narkotika (dikutip dari www.hukumonline.com). Gerakan Rehabilitasi 100.000Penyalahguna Narkoba, menurut saya adalah sebuah solusi tepat untutuk memutus rantai kecanduan dari korban. Kepala BNN, Komisaris Jenderal Anang Iskandar juga mengatakan bahwa gerakan ini merupakan langkah awal sehingga ke depan dapat merehab semua pengguna narkoba yang di Indonesia yang jumlahnya saat ini mencapai 4 juta orang (dikutip dari www.tribunnews.com).
Berdasarkan data hasil penelitian penyalah guna Narkotika dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal selaras dengan  data dari Laporan Survei Perkembangan Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tahun Anggaran 2014 (tersedia di www.bnn.go.id) yang menyatakan bahwa  ada kenaikan yang signifikan dari tahun 2008 hingga tahun 2011, yakni dari 1,9% menjadi 2,2%. Menurut tingkat ketergantungannya terdapat sejumlah 1,15 juta orang pemakai dan 1,89 juta orang pecandu teratur pakai/situasional. Diperkirakan jumlah tersebut meningkat di tahun 2015 dengan prevalensi penyalah guna Narkotika di Indonesia diproyeksikan menjadi 2,8% atau sekitar 5,1 – 5,6 juta jiwa. Sungguh proyeksi angka yang sangat mencengangkan bukan? Bagaimana ceritanya kalau jumlah yang jutaan ini tidak diberikan bantuan perlakuan khusus melalui rehabilitasi? Kerugian fisik, psikis, sosial, dan materi pasti sudah menghantuinya dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Bukan hanya itu, negara pun juga ikut dirugikan dengan merusaknya moralitas generasi penerus bangsa. Menurut saya hal inilah yang sangat penting mengingat tidak sedikit dari pemuda dan pelajar yang terjerumus dalam lembah curam nan hitam ini. 

Saya pribadi sangat setuju dengan dicanangkannya Gerakan Rehabilitasi 100.000Penyalahguna Narkoba ini yang notabene adalah sebuah Gerakan Nasional. Gerakan ini kurang berbuah manis jika tidak ada sinergi dari Pemerintah, BNN Pusat dan Daerah, Ahli Pegiat Narkotika, LSM, dan juga Masyarakat. Dalam hal ini masyarakat sebagai komponen kontrol sosial sebaiknya bersifat partisipatif penuh untuk mengamati dan melaporkan penyalahgunaan Narkoba di sekitarnya.
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit! Mungkin itulah peribahasa yang tepat, sekarang mulai dari Gerakan 100.000, tahun depan mudah-mudahan bisa 1.000.000, dan bertambah seterusnya sampai Indonesia bebas dari ancaman Narkoba. 




Sunday, April 20, 2014

Tak kan Lagi Kuantar Ibuku Jadi Pembantu!

Malu juga boleh jikalau ada khalayak yang menonton realitas kehidupanku. Buat aku semuanya egoisitas ini hanya untuk sekadar lulus jadi seorang sarjana pendidik. Seperti yang didambakan Ayah sebelum mengedipkan mata terakir kalinya. Pagi itu entah apakah aku benar-benar menjadi seorang anak yang durhaka pada Ibu. Kuantarkannya ke terminal bus untuk menuju penampungan para pramuwisma, apapun itu kalau orang-orang mengenalnya hanya sebagai penampungan pembantu. Di sana puluhan calon pembantu dan calon baby sister menanti calon majikan menjemput. Dalam artian tidak gratisan, majikan harus menebus dengan biaya yang telah ditentukan untuk dapat memperkerjakannya. Semalam saja aku ikut menginap di sana, rasanya nyamuk-nyamuk itu ikut menertawaiku dengan ejekan “mahasiswa kog ngantar Ibunya jadi Pembantu, apa kata Dunia Nyamuk?”. Dualisme persepsi kali itu menyelimuti pikiran ini. Pertama, saya harus realistis dan menuruti keputusan Ibuku untuk bekerja di Jakarta sebagai pramuwisma. Kedua, sebagai mahasiswa sekaligus anak saya sejatinya tidak tega. 

Bukannya tanpa sebab kejadian ini terjadi. Sejak aku masih balita, Ibuku telah pergi jauh merantau untuk mencari penghidupan baru setelah ditinggal tanpa status suami. Dalam dan luar negeri telah Ibu sambangi. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai jabatan tertingginya adalah sebagai juru masak di kantor konjen RI di Vietnam. Maklum, Ibu memang tak mengenyam pendidikan sama sekali. Bahkan Ibu termasuk salah satu penderita buta aksara. Cerita lucunya waktu Ibu ikut staf diplomatik di Mesir, saat itu diminta untuk beli garam. Bubuk putih yang digelar oleh pedagang sayur, semuanya dicicipi oleh Ibu. Yang asin berarti itulah yang garam. Lucu juga sih tapi sepertinya agak berisiko. Ibu pulang setelah lebih dari 10 tahun mencari sesuap nasi di negeri orang. Hatiku sih senang, namun usul tak punya usut, Ibu pulang karena Ayah menderita sakit keras dan berkepanjangan. Sungguh, Ibu bak malaikat surga yang tercipta untuk Ayah. Walaupun ditinggal, dicaci dan bahkan dimadu namun Ibu tetap setia merawat Ayah dengan setulus hati. Hampir 5 tahun rata-rata nya Ibu merawat Ayah dan pada akhirnya Allah berencana yang lebih baik untuk Ayah. Semenjak saat itu, kondisi ekonomi kami terdampar hampir 180 derajat. Ujian yang sampai saat ini masih kami kerjakan untuk mencapai sebuah kelulusan yang hebat dan berkah. Ya ujian ekonomi yang greget adalah hutang keluarga yang menumpuk. Kami yakin, sedikit demi sedikit pasti akan kelar juga dan kami pun yakin bawasannya Allah mempunyai rencana terindahnya untuk keluarga kami. 

Sedari SMA aku sudah mendapatkan beasiswa berprestasi di sebuah sekolah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang terbaik di kabupaten. Dengan beasiswa ini tentunya jatah SPP dan uang saku dari Ibu telah kutabung untuk bekal melanjutkan ke perguruan tinggi, karena aku mempunyai cita untuk jadi seorang Teknokrat. Ujian yang menimpa keluarga juga tak luput berdampak pada tabungan kuliahku. Seratus persen tertarik untuk membantu pembiayaan pengobatan Ayah. Mencoba ikhlas adalah ikhtiar tepat bagiku, Ayah itu hanya Satu namun kuliah masih ada Waktu. Setelah lulus SMA, mencari beasiswa penuh adalah solusi terbaik bagiku. Perguruan tinggi terdepan dalam teknologi tentunya tidak luput dari bidikanku. Selain itu juga mencoba beberapa perguruan tinggi lainnya. Alhasil, di tahun pertama setelah kelulusanku dari SMA, aku belum diterima di perguruan tinggi manapun. Ketika kulihat pengumuman, hanya nama orang lain ataupun teman yang keterima. 

Alasan terkuatku untuk tetap kuliah adalah untuk menghaluskan kembali lutut Ibu yang telah kasar tergores beratus ubin lantai orang-orang kaya. Tak memaksakan kehendak untuk ikut jalur yang lebih mahal, aku putuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Orientasi utamanya adalah untuk mengumpulkan biaya masuk perguruan tinggi di tahun berikutnya. Sebagai anak lulusan SMA, aku bekerja di sebuah yayasan lembaga amil zakat. Spesifikasi pekerjaanku adalah sebagai fundrising. Otomatis gajinya pun tidak cukup besar dan bahkan di bawah UMR. Untung saja ada ustadzku waktu ngaji dulu yang menawari pekerjaan sampingan, yaitu sebagai penjaga kos-kosan. Imbal baliknya aku dikasih honor seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulannya dan dibebaskan dari biaya kontrakan. Setiap pagi sebelum kerja aku sempatkan membersihkan halaman kosan dan mengecek anak-anak kos. Dan berlanjut sepulang kerja, tugas wajibku adalah tetap memantau anak-anak kos yang notabene masih tergolong usia labil. Jangan sampai terjadi sesuatu di luar keinginan di dalam kosan yang kujaga. Masih saja kurang cukup ternyata segala yang kuupayakan untuk menabung guna pembiayaan kuliah nanti. Maklum waktu itu aku juga masih punya tanggungan adik satu yang duduk di Sekolah Dasar. Untuk menambah pundi-pundi kantong, aku membuka Angkringan atau warung kopi yang mulai beroperasi dari jam 5 sore sampai jam 10.30 malam. Menunya berbagai macam dan hasilnya pun dibagi dengan pemilik modal. Pekerjaan tambahan ini tentunya memotong masa istirahatku kecuali di akhir pekan yang kantor tempat kerjaku libur. 

Jauh panggang dari api. Masih saja, tiga bulan pertama segala upaya yang telah kulakukan ternyata belum dapat menambah saldo tabungan persiapan kuliahku. Di saat itu, datang tawaran dari saudara yang tinggal di luar kota untuk mencoba berjualan di pasar pagi. Rencana saya adalah ketika dini hari saya jualan dan siangnya dapat belajar untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Singkat cerita tawaran itu aku ambil dan berhijrahlah aku ke luar kota. Di sebuah kota eksotik dan acapkali disebut sebagai Flower City, aku malah berada jauh di balik gemerlapnya kota tersebut. Paving yang becek, bau dan berlumpur adalah alas pijakanku setiap hari. Dan seolah-olah tarian wanita jadi-jadian (banci-red) di pinggir jalan adalah sambutan rutinku setiap kali pergi belanja dagangan saat dini hari. Aku yang dulunya seorang pimpinan organisasi antar sekolah tingkat SMA dan menjuarai beberapa kompetisi ilmiah siswa, kini adalah seorang pedagang ayam boiler di sebuah pasar tradisional. Jam 2 pagi aku pergi berbelanja, jam 3 pagi aku mencabuti bulu ayam dan membersihkan semua isi perut ayam, dan jam setengah 4 sampai jam 8 pagi aku mulai meladeni pelanggan yang mayoritas adalah tukang bakso dan pedagang sayur. Tak sampai situ, jam setengah 9 pagi adalah moment yang selalu kuingat sampai sekarang yaitu membelah usus ayam dengan silet dan memisahkan antara usus dengan kotoran ayamnya. Ehmmms, maaf jikalau membuat Anda berimajinasi namun ini adalah realitasku beberapa tahun yang lalu. Dagang itu ternyata penuh harap-harap cemas, boleh jadi hari ini untung namun hari berikutnya buntung. Rencana awal sewaktu mau berangkat Alhamdulillah terlaksana dengan baik. Dini hari jualan dan siangnya belajar pun terlaksana. Dan Alhamdulilah Wa Syukurillah, alhasil atas izin-Nya aku masuk sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Di semester pertama rutinitasku sebagai pedagang ayam potong pun masih berjalan dan imbasnya rasa kantuk selalu menyelimuti ketika kuliah. Terkadang bau isi usus ayam ikut serta dalam kuliahku di kelas, maklum karena buru-buru aku ternyata lupa untuk mandi. 




Sekali lagi, Ibuku adalah alasan terkuatku mengapa aku harus terus bertahan dan berjuang. Memang, di tingkat 3 masa kuliahku belum bisa menutup rapor tanggungan hutang keluarga secara penuh. Setidaknya aku sudah mulai ikut berbahagia ketika Ibu mulai tersenyum lebar untukku. “Anakku itu sering lomba di mana-mana, IP kuliahnya diatas 3.5, sering berpidato ngisi acara juga, dan sekarang aku dibukakan kios untuk jualan sendiri. Sampeyan (Anda-red) mau mbak sama anakku?” itulah candaan Ibuku ke seorang pelanggannya yang memang manis dan beraura. Dalam hati sih saya senang karena dicarikan jodoh, namun tetap saja saya pura-pura malu dan meminta Ibu untuk tidak mengulanginya lagi. Hehe. Perjalanan ini belum selasai dan ujian ini belum tuntas kami tutup dengan nilai cumlaude. Kami percaya bahwa yang maha kuasa memberikan keindahan di akhir kisah ini, dan kami pun senantisa berdo’a untuk Ayah semoga ditempatkan di sisi terbaik-Nya. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba #CintaMenginspirasi 2014. Kawan-kawan pun juga dapat berpartisipasi dalam Lomba ini dengan mengklik icon banner di bawah ini. Good Luck! 


Sunday, April 6, 2014

#Education : Kisahku untuk Refleksi Pendidikan Masa Depan Indonesia

"Berjalan Tak Kenal Lelah Dan Tak Takut Kalah"
Masram Dahsyat 

Salam Berbagi! Kawan berbagi adalah sebuah hal yang istimewa, bermanfaat dan semuanya Inadah. Termasuk pada postingan kali ini, perkenalkan saya Agus Ramelan atau biasa sebut saja Masram dari tanah perantauan Kota Kembang. Kali merupakan sebuah kesempatan berharga untuk berbagi cerita dalam tajuk Lomba Blog Putera Sampoerna Foundation. Kalah menang bukanlah permasalahan, esensi terpenting adalah kita dapat berbagi gagsan yang tentunya berhilir pada satu tujuan yaitu Bangsa Indonesia yang lebih baik lagi. Berikut adalah sekadar cuplikan kisah pribadi yang saya harap dapat menjadi gambaran untuk Kondisi Masa Depan Pendidikan Indonesia. 

Persaingan Mulai Ada sejak SD 

Sumber : http://pmat.uad.ac.id/wp-content/uploads/images2.jpeg

Tahun 2002 silam bisa jadi merupakan awal dari sebuah kisah baru bagi diri saya. Kalau salah satu group band bilang, sebuah nama sebuah kisah. Namun, saya bilang sebuah kisah sebuah tonggak awal untuk menjadi insan sesungguhnya. Pada tahun tersebut saya menginjak usia anak-anak yang sedang duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar, tepatnya di SD N 1 Kepyar. Sebuah sekolah yang terletak tepat di pinggir sawah, di atas sungai, dan di tengah-tengah masyarakat perantau ulung yang berani melalang buana ke seantereo Indonesia. Hal yang unik dari sekolah saya waktu itu adalah hampir tiap bulan atap yang terbuat dari genteng tanah selalu pecah, alhasil ketika musim penghujan yang terjadi adalah atapnya bocor dan ketika musim kemarau yang terjadi adalah kilaun cahaya matahari menusuk mata membaurkan Teori Phitagoras yang mulai dituliskan Ibu Guru di papan tulis. Lebih uniknya lagi, pecahnya genteng tidak terjadi karena faktor usianya namun hal ini disebabkan oleh letak sekolah saya yang tepat berada di pantat gawang dari lapangan sepakbola utama Desa Kepyar. Hampir tiap sore juga tendangan super bak tendangan Si Madun memberondong atap genteng sekolah, asyik juga waktu itu saya melihatnya. Keasyikan semu jikalau hal itu masih terjadi saat usia saya sekarang ini. Terlepas dari kondisi fisik sekolah dan tentunya berlanjut ke sebuah kisah pertama saya waktu kelas IV SD, yaitu mulai terdapatnya persaingan belajar ketat antara kami sesama pelajar di satu kelas. Saya yang mulai mendapatkan posisi empuk di peringkat pertama juga tidak mau kalah untuk tetap bersaing. Waktu itu yang ada adalah ketika saya peringkat pertama, maka pujian, hadiah dan tepuk tangan hanyalah milik yang terbaik, yaitu saya Agus Ramelan. Yang lebih asyik lagi, ketika siswa lain bahkan orang tuanya sekalipun melihat nilai rapor yang saya peroleh pasti pada akan ndomblong (baca : terkagum-kagum). Persaingan awal kelas IV ini sejatinya bukan pertempuran yang nyata. Berkat persaingan ini saya mulai menemukan semangat untuk mengubah tradisi, begitupun juga dengan kawan sebaya ku yang lain. 


Mereka Mulai Terkikis 
Sedikit dirasa, banyak yang tak terasa bahwa perjalanan di sekolah dasar sudah berada di ujung tanduk. Sulit dibayangkan, usia hampir remaja bagi kami saat ini sudah diharuskan menelan berbagai doktrin yang berasal bertubi-tubi dari masyarakat sekitar bahkan kalangan internal keluarga. “Halah le, sekolah kuwi ora mareki. Mendingan lungo ngrantau neng Njakarta kono wae. Delokken kae paijo, rong tahun neng Njakarta muleh iso tuku sapi”. Kalimat inilah sering saya dengar yang mengandung makna imbauan untuk lekas merantau saja daripada sekolah tidak ada hasilnya. Rayuan ini ternyata berhasil, sekitar lima dari teman saya sekelas tergiur untuk memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Keputusan ini diimbangi dengan asumsi sekaligus permasalahan klasik yang menyebutkan sekolah itu mahal, walaupun masih di tataran Sekolah Menengah Pertama. Memang jumlah kawan saya yang berhenti sekolah hanyalah jumlah jari dalam satu tangan, namun siapa yang tahu jikalau mereka tetap mengenyam pendidikan mungkin merekalah yang jadi ketua BEM, ketua UKM, Mahasiswa Prestasi, atau bahkan koordinator lapangan waktu demonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. 

Hanya 10 yang Bertahan 

Sumber : http://fiftytwopoetry.files.wordpress.com/2014/03/10.jpeg

Berlanjut di tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama, kawan-kawan saya semakin bertambah yang terbuai rayuan pohon kelapa yang rindang itu. Seakan-akan tak berefek sama sekali, menuntut ilmu di SMP favorit se-kecamatan. Godaan internal masyarakat lebih kuat menusuk di tengah-tengah kurangnya fungsionalis bagian Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Padahal, kami masih untung bisa mencicipi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mulai tahun 2005. Bantuan ini digembor-gemborkan untuk mensukseskan program wajib belajar 9 tahun dari pemerintah. Nayamul juga (baca : lumayan), dengan bantuan ini seharusnya orang tua wali murid bisa menabung atau mengalihkan dana yang seharusnya dikeluarkan untuk membayar tanggungan pendidikan di SMP, ke pembayaran tanggungan biaya pendidikan di SMA. Sehingga tujuan apik-nya adalah semua peserta didik di SMP bisa dengan mulus tanpa terkendala dana untuk mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya. Lagi-lagi, bukan sebuah kebijakan namanya kalau belum mengalami hambatan berarti di negeri ini. Tujuan apik dari program ini belum semuanya terkabul, masih banyak juga pelajar SMP yang enggan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Faktor klasik masalah dana senantiasa enggan untuk tidak menyertai setiap nafas pendidikan. Dan yang paling lucu, saya sendiri bercanda “Ya gak papa kog gak sekolah ke SMA, kan udah nggak dosa lagi. Tanya kenapa?, Ya iyalah gak dosa lagi, wong kita dah nyelesain wajib belajar 9 tahun kog. Yang kesepuluh dan selanjutnya kan gak wajib. Hehehe lucu kan?” 

Dan Hanya Tinggal 2 

Sumber : http://www.kopertis2.or.id/

Saya hampir terbelangak tak percaya akan akhir kisah bersama kawan-kawan pesaing waktu kelas IV SD dulu itu. Setelah hanya sepuluh orang yang melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sambil mengusap air mata hati saya mengungkapkan hanya dua yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini serius bukan hanya karena efek KB yang menyebutkan dua anak lebih baik. Mungkin tidak salah, sekolah kami telah berhasil meng-KB-kan lulusannya. Sekali lagi susah sekali saya percaya. Pasalnya, saya ini angkatan lahir ’92 bukan lah zaman pra-kemerdekaan atau awal pembangunan NKRI. Masyarakat boleh dibaurkan dengan hegemoni gempita pendaftaran SNMPTN 2011 yang peminatnya mencapai 540.928 [1]. Namun sejatinya miris banget bukan miris ajah, sampelnya jelas kisah dari kawan seperjuangan saya waktu sekolah dasar yang hanya dua orang saja yang mencicipi bangku kuliah. Saya pun agak yakin, kondisi ini juga terjadi di daerah lain yang coraknya hampir sama dengan daerah saya tinggal dulu. Setelah reunian lebaran kemarin, tetangga dan kawan saya mengatakan bahwa pendidikan tinggi itu bukan faktor kesuksesan. Seratus saya acungkan jempol terhadap statement mereka. Sejatinya sudah berkali-kali, orang mengingatkan ini bukan masalah sukses atau tidaknya seseorang. Inilah permasalahan dasar mengenai sadar atau tidaknya peran pendidikan terhadap pembangunan bangsa. Mengapa peribahasa menganjurkan menuntutlah ilmu sampai negeri China jikalau hanya untuk mencari kesuksesan? 

Apa yang Kurang Benar? 
Lalu, lantas bagaimanakah mengilhami kisah ini? Apakah berakhir semata di utain cerpen dan paling panjangnya di atas novel? Ternyata, kisah ini membawa analisis-sintesis yang terpadu buat saya khususnya. Memang masih adanya faktor budaya lulus SMP langsung merantau sampai sekarang ini, inilah yang saya sebut sebagai sebuah tradisi di desa kami. Bukanlah tradisi yang terikat hukum agama dan adat. Yang dimaksud adalah tradisi karena jeratan ekonomi. Pertama-tama, mereka hanya ingin seperti tetangga yang gaul waktu mudik lebaran. Akan tetapi, lambat laun faktor pemenuhan kebutuhan ekonomi dipastikan akan menjadi kunci utama dalam pergerakan mereka. Dalam konteks ini, saya akan lebih melirik faktor yang sangat sering disebut sebagai faktor klasik yaitu dana atau dikenal sebagai istilah “biaya pendidikan”. Program pemerintah yang mencanangkan wajib belajar 9 tahun dan dibarengi pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa jadi dikatakan sukses terlaksana. Perlu digarisbawahi dan dicetak tebal, program tersebut hanya sukses mengantar anak indonesia sampai jenjang SMP saja. Untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, itu tergantung orang tua dan sebagian untuk ke SMA juga tergantung kebijakan pemerintah daerah setempat. Mengingat, ada beberapa pemerintah daerah yang menggratiskan biaya pendidikan di tingkat SMA. Namun, tetap belum jelas kepastian banyak atau tidaknya anak Indonesia yang melanjutkan setelah SMP dan SMA. Perihal yang sangat menakutkan untuk melanjutkan kuliah itu bukan ospek nya yang aneh-aneh atau ada dosen yang tidak jelas memberi nilai, namun kembali lagi ke faktor klasik yaitu dana. Saya pernah dengar kawan-kawan yang sering berdemo, mereka mengatakan pendidikan tinggi di Indonesia ini sekarang penuh dengan komersialisasi. Masih kata mereka, perguruan tinggi tidak mementingkan kualitas lulusan namun memikirkan saldo akhir tahun masih tersisa berapa. Beuh, kalau benar begitu mungkin lebih baik jadi koperasi atau lembaga usaha yang benar-benar nampak adanya. 

Solusi : Pendidikan Tinggi Gratis? 

Sumber : http://pmb.polindra.ac.id/

Pendidikan tinggi gratis seharusnya hal yang mutlak untuk Indonesia saat ini. Weleh-weleh, gelo sia! Darimana dananya? Ketika tekad dibarengi praktek yang sehat maka sekiranya tidak ada yang mustahil untuk pendidikan Indonesia. Pahit-pahitnya saya lebih setuju ketika dana kompensasi BOS dialihkan ke dalam sebuah program khusus untuk memberi kompensasi biaya pendidikan di pendidikan tinggi. Sekiranya mungkin orang tua walimurid juga lebih setuju pendidikan tinggi yang gratis dibandingkan dengan SD dan SMP yang gratis. Konsep ini tetap memberikan peran tanggung jawab keorangtuaan kepada anak di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Teman saya yang notabene sebagai delegasi Indonesia di ajang ISWI Jerman pernah bercerita, di saat sesi pengakraban dengan delegasi lain seluruh dunia, dia bertemu delegasi dari Turkmenistan. Cerita mereka berhilir pada konsep pendidikan tinggi gratis di negara tersebut. Hal yang dahsyat, betapa tidak? Negara yang pernah dikalahkan sepak bolanya oleh Tim Garuda di ajang Pra Piala Dunia 2014 leg kedua ini mampu dan yakin menerapkan pendidikan tinggi gratis untuk seluruh rakyatnya. Bukankah ini cambuk motivasi bagi bangsa kita? Hanya tinggal mau atau ragu saja sebetulnya.
            Dengan penerapan pendidikan tinggi gratis, gelar sarjana bukanlah sekadar gelar materialistis yang mengedepankan profit ketika masuk dunia kerja. Ribuan sarjana akan menyerbu dusun-dusun, desa-desa, dan seluruh pelosok nusantara. Ketika bekal pendidikan terpenuhi, kesuksesan sangatlah mungkin untuk mengikuti sebagai hasil dari sebuah proses pembelajaran. Inilah sebuah konsep yang mencerminkan Pendidikan Kerayakyatan. Sebuah pola pendidikan yang pro sekaligus mencerdaskan semua rakyat, bukan mencerdaskan mereka yang berkantong penuh. Sebuah pola pendidikan yang mengedepankan pengabdian pada masyarakat, bukan pengabdian pada kaum kapitalis. Hilirnya, dengan konsep ini diharapkan mampu mewujudkan Indonesia cerdas dan selanjutnya tidak hanya cukup menjadi Macan Asia, namun berpotensi untuk menjadi Garuda yang mencengkeram kuat dunia ini. Semoga.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Tersedia di : http://nasional.cukupsatu.com/news/read/2011/05/31/1743/jumlah-peserta-snmptn-capai-540.928